Misteri di Balik Istana Majapahit: Lima Kerangka Manusia di Situs Kumitir Masih Menanti Jawaban
Mojokerto– Sebuah teka-teki dari masa lalu masih menyelimuti Situs Kumitir, Mojokerto. Penemuan lima kerangka manusia yang digali sejak Oktober 2024 lalu hingga kini masih menyimpan kabut misteri tentang asal-usul dan identitas mereka. Seperti apa kisah yang terpendam bersama tulang-belulang yang ditemukan berjajar rapi ini?

Baca Juga : Riuh Stadion Gajah Mada Berganti Haru, Dua Ibu Ini Pulang Dengan Kunci Motor Baru
Sejak dievakuasi oleh tim arkeolog, kelima kerangka tersebut telah menjalani serangkaian penelitian intensif oleh para ahli. Namun, hingga saat ini, belum ada titik terang yang bisa diumumkan kepada publik. M. Ichwan, Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir yang juga merupakan arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, mengonfirmasi bahwa proses analisis masih terus berlangsung.
“Kami sendiri masih menunggu perkembangan hasil dari tim Paleoantropologi Universitas Airlangga (Unair). Proses seperti ini memang membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak sebentar,” ujar Ichwan, menjelaskan sebab lambatnya pengungkapan identitas kerangka.
Potret Penemuan: Lima Kerangka dalam Barisan Rahasia
Lokasi penemuan kerangka ini menambah dimensi dramatis dari temuan tersebut. Kelima kerangka ditemukan terpendam relatif dangkal, hanya sekitar 50 sentimeter di bawah permukaan tanah. Mereka terbaring berjajar dengan pola yang teratur—kepala semua menghadap ke arah utara. Yang membuat penemuan ini semakin mengharukan, salah satu dari kerangka tersebut memiliki ukuran yang jauh lebih kecil, mengindikasikan bahwa itu adalah kerangka seorang anak-anak.
Lokasi temuan ini terletak tak jauh dari kehidupan modern, hanya berjarak sekitar 10 meter di sebelah barat pemakaman umum Dusun Bendo, Desa Kumitir. Kedekatannya dengan situs yang diyakini sebagai Istana Bhre Wengker—salah satu pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit—tentu memantik beragam pertanyaan. Apakah mereka bagian dari keluarga kerajaan, abdi dalem, atau korban sebuah peristiwa besar?
Penanganan Modern untuk Mengungkap Masa Lalu
Untuk menguak misteri ini, penanganan kerangka tidak dilakukan secara sembarangan. BPK Wilayah XI menggandeng tim ahli Paleoantropologi dari FISIP Unair, yang dianggap memiliki kompetensi tinggi di bidangnya. Kelima kerangka, yang ditemukan dalam kondisi yang relatif lengkap, tidak disimpan di Museum Majapahit atau dikembalikan ke situs.
“Seluruh temuan telah dievakuasi dan disimpan di Museum Kematian Unair untuk diteliti. Ini merupakan bagian dari kerja sama kami. Penempatan di sana memudahkan untuk berbagai kajian akademis yang lebih mendalam,” papar Ichwan.
Salah satu metode mutakhir yang kemungkinan besar digunakan adalah uji penanggalan karbon (carbon dating). Tes ini diharapkan dapat menentukan secara lebih akurat kapan kelima individu tersebut dikuburkan, membuka pintu untuk memahami periode sejarah apa yang mereka lewati.
Ekskavasi Tahap VI: Menguak Pembatas Istana Majapahit
Sementara penelitian kerangka berlanjut, aktivitas di Situs Kumitir sendiri tidak berhenti. BPK Wilayah XI telah menyelesaikan ekskavasi tahap keenam yang berlangsung dari 16 hingga 23 Oktober. Fokus penggalian kali ini adalah pada bentangan struktur talud (tembok penahan tanah) di sisi barat dan utara situs.
Hasilnya semakin mengukuhkan teori para arkeolog. Istana Bhre Wengker, yang diperkirakan membentang seluas 6 hektare itu, ternyata dikelilingi oleh talud yang terbuat dari bata kuno. Temuan ini mempertegas gambaran tentang betapa megah dan terstrukturnya kompleks istana ini pada masanya.
Penantian Panjang untuk Sebuah Jawaban
Meski antusiasme publik tinggi, Ichwan mengingatkan bahwa kesabaran adalah kunci dalam proses arkeologis. “Memang prosesnya lama. Sampai sekarang kita juga masih belum tahu hasil analisisnya seperti apa. Nanti kalau sudah ada kesimpulan, kami pasti akan menerima surat resmi dan mengumumkannya,” tuturnya.
Kabut Misteri Lima kerangka manusia yang ditemukan di Sektor D selama ekskavasi tahap V ini ibarat potongan puzzle yang hilang dari sejarah besar Majapahit. Setiap tahap penelitian yang dilakukan bukan hanya sekadar mengidentifikasi tulang belulang, melainkan menyusun kembali narasi kehidupan, budaya, dan mungkin bahkan tragedi, yang terjadi berabad-abad silam di salah satu kerajaan terbesar Nusantara ini. Semua mata kini tertuju pada laboratorium di Unair, menunggu kapan sang masa lalu akhirnya bersuara.